Akhir-akhir ini aku sulit tidur. Bukan banyak pikiran,
hanya ada beberapa hal yang harus aku kerjakan. Salah satu hal yang membuatku
rela tidak tidur hingga subuh ya, karena mendengar suaramu di ujung telepon,
hingga suara azan subuh menggema di masing-masing kota kita. Mendengar suara
dan saling tertawa; itulah yang biasa kita lakukan, di samping membaca pesan
singkat yang kautuliskan dengan rapi, dengan huruf dan tanda baca yang penuh
intonasi. Dalam jarak sejauh ini, tak banyak hal yang bisa kita lakukan, selain
menulis dan mendengar; bukan bersentuhan. Padahal, tahukah kamu tulisan dan
suara yang terdengar di ujung handphone sungguh jauh berbeda dengan pertemuan
nyata? Iya, tidak akan kubahas lagi, aku selalu hapal nasihatmu ketika aku
mengungkit soal ini, "Sabar." katamu dengan suara parau, "Kita
bisa lewati ini."
Kita terus berjuang dan melewati yang memang tak
pernah kita minta untuk terjadi. Seperti takdir, dia datang bagai pencuri,
tanpa laporan dan ucapan permisi— datang menghampiri. Ini bukan salahku,
juga bukan salahmu. Aku dan kamu sudah tahu yang harus kita hadapi, lalu
pantaskah mengeluh? Tidak. Sejauh ini perjuangan kita memang tidak sia-sia,
belum sia-sia (lebih tepatnya). Apa kaumembaca nada ketidakyakinan? Manusiawi
jika manusia punya rasa tak yakin, karena seluruh yang terjadi di kolong langit
ini memang penuh ketidakpastian.