Aku menulis ini ketika aku sadar tak akan ada yang
bisa dikembalikan seperti dulu lagi. Aku menulis ini ketika aku berpikir bahwa
di sana kamu pasti telah menemukan seseorang yang baru. Seseorang yang bisa
mencintaimu, memahamimu, dan mengerti keinginanmu lebih baik daripada aku.
Rendahnya kepekaanku dan tingginya keegoisanku membuat kamu pergi dan menjauh.
Seandainya, bisa kuputar kembali waktu, aku tidak akan membiarkanmu pergi dan
akan menahanmu sampai Tuhan bosan melihat usahaku.
Aku mulai mencintaimu, mulai membiasakan diri akan
kehadiranmu, dan mulai percaya yang kaurasakan juga adalah cinta. Setiap
kausapa aku, setiap kaurangkul tubuhku, setiap tatap matamu menyentuh hangat
tatap mataku, dan setiap genggaman jemarimu mengisi celah-celah kecil jemariku;
aku percaya ini cinta. Dulu, aku tak takut mengartikan kata-katamu dan segala
kalimat-kalimat manis itu adalah salah satu respon bahwa kaujuga punya perasaan
yang sama. Beberapa minggu yang lalu, aku begitu percaya diri dan begitu
memercayai bahwa kamu hanya memiliki aku; aku satu-satunya di hatimu. Namun,
ternyata, aku pun bisa salah. Salah mengartikan isyarat yang kauberikan.
Harusnya aku menyadari bahwa terlalu tinggi jika mengharapkan kamu berada di
sisiku, terlalu mimpi jika menginginkan kamu menjadikanku pertama dalam hatimu,
dan terlalu tolol menganggap perhatianmu yang ternyata tak hanya diberikan
untukku.